Cerita Seks Terpopuler - Kenangan Ngentot Masa Kuliahku
Cerita Seks Terpopuler - Kenangan Ngentot Masa Kuliahku
Cerita Seks Terpopuler - Kenangan Ngentot Masa Kuliahku
marimaju.net berbagi cerita seks seru dan menggairahkan birahi seks kamu. Kali ini cerita tentang bagaimana kisahku hingga bisaCerita Seks Terpopuler - Kenangan Ngentot Masa Kuliahku .
"kumpulan Cerita Dewasa terbaru "cerita seru 18+ "Cerita Porno" Kali ini marimaju.net akan berbagi cerita dewasa paling seru yang berjudul " Cerita Seks Terpopuler - Kenangan Ngentot Masa Kuliahku ". Cerita ini khusus buat teman-teman yang pingin tau kisahnya dan khusus untuk umur 18+. Cerita ngentot ,dan kumpulan cerita seks ini lumayan Hot dan lumayan membuat Konak. untuk lebih jelasnya bisa disimak di bawah ini.
"kumpulan Cerita Dewasa terbaru "cerita seru 18+ "Cerita Porno" Kali ini marimaju.net akan berbagi cerita dewasa paling seru yang berjudul " Cerita Seks Terpopuler - Kenangan Ngentot Masa Kuliahku ". Cerita ini khusus buat teman-teman yang pingin tau kisahnya dan khusus untuk umur 18+. Cerita ngentot ,dan kumpulan cerita seks ini lumayan Hot dan lumayan membuat Konak. untuk lebih jelasnya bisa disimak di bawah ini.
Kamis di bulan, April 1998. Hujan tak juga reda. Aku gelisah berharap hujan segera reda. Hari ini akhir dari ujian semester ku. Gelar sarjana sosial terus membayangi diri ku di tahun *****
Para pembaca, kenalan diriku. Aby. Singkat saja nama kusebut. Agar menghindari rasa marah dan benci dari mereka yang pernah bergelut dan berpeluh keringat di kos-kosanku.
Orang tua dulu, bilang, kalau mau meminta hujan carilah kodok. Aku pun bingung bilang mau meminta hujan reda, apakah harus membunuh kodok.
Nada pesan singkat membuyarkan lamunan dalam harapan kepada hujan agar reda. “Kau mau wisuda tidak. 15 menit lagi waktu tersisa untuk mata kuliah akhir.” Begitu isi pesan singkat yang kubaca dari hape merek Nokia butut milik. Si pengirim adalah, Listi. Dia temen satu kabupaten dengan ku yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta tak terkenal di Kota Medan .
“Aku terjebak hujan di kos.” Balasan sms ku tak sampai. Ternyata pulsa di handphone sudah habis. “Sial, mana duit gak ada lagi,” aku membatin.
“Persetanlah. Gak jadi wisuda gak apalah.” Aku pun merebahkan diri di kasur kusam yang sudah melar. Hujan makin deras. Halilintar memecah kota ***** Aku mengutuk hari ini, memaki dan mengumpat dengan teriakan tak mampu menandingi suara gemuruh. Aku pun lelah berteriak. Hingga terpejam dan terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur hingga suara ketukkan di kamar kos, membangunkanku. “Siapa…” teriaku dari dalam. Ku berdiri dan mencari saklar lampu kamar. Ternyata sudah malam.
“Aku, Listi,” balas si pengetuk pintu kamarku. “Bentar…,” kata ku lalu mengarah pintu. Listi, dia adalah remaja yang biasa saja. Tingginya 158 centimeter. Rambut ikal panjang sebahu, wajah oval dan memiliki tahi lalat di bibir bawahnya. Berat badannya tidak lebih dari 50 kilogram, dengan ukuran baju medium dan pinggang 28. Soal bra, setahu ukurannya 34.
Hal yang bikin aku penasaran terhadapnya. Ia mahasiswi yang tergolong tak punya masalah soal keuangan. Setahuku dari informasi teman-teman di kampus, orang tua Listi hanya pegawai negeri golongan dua. Tentu, gajinya tidak akan cukup membiaya Listi dan empat adiknya.
Gosip akan Listi menjadi buah bibir di kalangan kampus, khususnya yang seangkatan dengan kami. “Listi, ayam kampus. Dia peliaraannya pengusaha Malaysia .” Begitulah gosip akan Listi.
Keakraban ku dengan Listi terjalin saat pulang ke kampung. Kami bertemu di kereta api. Semalaman suntuk aku dan dia asik bercengkrama di restorasi. Bercerita masa kecil hingga kelak, setamat kuliah.
“Kenapa gak ke kampus. Emang udah gak mau sarjana. Mana janjimu yang akan selesai tahun *****” Listi mengomel dan mengumpat atas ketidakhadiran ku mengikuti mata ujian akhir.
Aku diam, tak menjawab. Hanya menyalakan rokok dan menguk air putih dalam botol aqua. “Nih ngoceh aja,” kata ku sembari menawarinya rokok. “Jawab dulu pertanyaanku,” katanya.
“Apa kau gak tahu tadi hujan lebat.” Listi menepis alasan itu. “Kau kan bisa pakai jas hujan ke kampus. Dasar malas mu aja yang dituruti,” umpatnya. Aku tak ingin memperpanjang perdebatan dengannya. “Sudahlah, besok aku ke kampus jumpai bu Habibi minta ujian susulan,” jawab ku dengan nada suara pasrah.
Bu Habibi, dosen bahasa Inggris yang dikenal raja tega. Jarang mahasiswa-mahasiswi mendapatkan nilai B. Paling banter memperoleh nilai C alias Cukup. Bu Habibi juga dikenal mata duitan. Bagi yang ingin ujian susulan maka tarifnya akan dinaikkan.
“Lis, kau naik apa kemari,” tanyaku. “Aku diantarin teman. Nanti aku minta dirimu mengantar aku pulang ke kos ya,” katanya. Aku tak ingin menyelidiki siapa yang mengantarnya. Amat sering kami lihat Listi dijemput dengan kendaraan roda empat, produksi Jerman dan Inggris.
Ok, asal kamu traktirin aku makan. “Emang gak punya uang,” balasnya. “Iya, aku lagi bokek nih. Cuma ada 15 ribu di dompet,” jawabku. “Duh…, kasian deh,” ledek Listi. “Ntar aku cuci muka dulu,” jawabku.
Sepeda motor empat tak yang terparkir sejak siang tadi kustater. Yuk berangkat, ajak pada Listi. “Kita makan di KFC, ya. Singgah dulu di ATM, aku mau ambil duit,” katanya.
*** Udara kota ini begitu sejuk. Dingin. Bulan yang mengantung di langit kelam, menjadi pusat indah malam *****
Usai melakukan transaksi di mesin ATM, Listi kembali naik ke boncenganku. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju restoran siap saji, milik warga abang sam itu.
Aku sengaja mengambil kursi paling pojok. Itu adalah kegemaranku. Dari sini aku bisa memperhatikan siapa saja. Dan melirik wanita yang manis, ayu dan cakep.
Biasanya, etnis cina paling banyak. Wanitanya dengan pakaian minim menjadi santapan mataku. Paha mereka yang mulus, dada yang menyembul dari baju kaos super ketat. Membuat mataku manja dan hayalan untuk melucuti dan bercinta dengan mereka.
Meski terobsesi dengan wanita cina, aku belum begitu berhasrat untuk bercinta dengan mereka. Ya, tentunya dengan wanita etnis cina yang berprofesi sebagai pelacur. Banyak teman yang bilang mereka sangat berkicau saat melakukan making love. Merintih gak karuan.
Dibanding mereka, aku lebih tertarik dengan etnis manggali atau India . Bukan rahasia lagi, di Indonesia semua PSK dari beragam etnis dan ras ada.
“Kenapa, montok payudara cewek itu.” Suara Listi menyudahi tatapan mataku ke arah gadis, kutaksir masih berumur 14 tahun, duduk bersama dua temannya di sisi kanan meja kami. “Ha…ha. Masih tetap montokan payudaramu, Lis,” bisikku padanya. Listi hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya ke arah dadanya. “Makasi, pujianmu.”
“Eh, Lis boleh tanya yang pribadi. Tapi kamu jangan marah ya. Karena aku ingin tahu soal,” tak kulanjutkan. Listi melepas sedotan minum dari bibirnya. Matanya melirik tajam ke arahku. Dan mendekatkan wajahnya. “Soal apa. Soal aku yang disebut ayam kampus.”
“Ehem,” suara itu saja keluar dari bibir ku. “Iya, By. Aku ayam kampus. Sama mu aku akan terus terang. Ini kulakukan, ya memang didasari ekonomi. Kau tahu kan, ayahku hanya seorang pegawai rendahan. Jadi, dengan apa yang kulakukan sejak empat tahun ini, demi obsesiku, demi cita-citaku dan untuk meringankan beban orang tuaku. Kalau tidak begini, tentu aku tak bisa menafkahi dan membiaya dua adikku yang kuliah di s*****
Tapi, aku tidak sembarangan, By. Aku hanya menjalin hubungan dan mau diboking oleh mereka yang sudah menikah dan memang hanya menginginkan seks. Tidak lebih. Ya, tak sedikit dari mereka yang mau menjadikan aku simpanan. Tapi kutolak. Itu kulakukan karena aku tidak bodoh. Aku tahu mereka mau jadikan aku simpanan, agar bisa mengikatku, tapi aku tak ingin terikat. Walau imbalan yang mereka tawarankan cukup menggiurkan. Mulai dari rumah, mobil, pekerjaan. Itu kutolak. Aku hanya menyerahkan tubuhku, tidak hatiku.
Kepulan asap rokok dari bibirku, bersamaan dengan kalimat tanya yang kulontarkan pada Listi dengan mimik melucu. “Hatimu buat siapa.” Listi mengerutkan keningnya. Entahlah, By, aku tak punya rasa cinta belum. Yang ada masih uang, uang dan uang. “Pinjamin aku dong,” sambil menelentangkan telapak tanganku ke arahnya.
Listi hanya tersenyum. “Kerja dong,” katanya. Mau kerja apa, Lis. Hari gini ngandalin ijazah SMA. Ya gak laku. Palingan diterima jadi satpam, cleaning service dan sopir.
***
Obrolan kami terhenti. Dari dalam tas tangan milik Listi, dering telepon menghentikan pembicaraan kami. Aku tak tahu siapa yang menelepon Listi. Pastinya bukan dari seorang pria. Ia menyapa si penelepon dengan kata, siapa *****
Aku pun tak memperhatikan Listi. Mata ku mengarah kepada satu keluarga yang baru masuk. Pasangan suami istri dengan seorang putranya, kuterka masih balita. Si istri dengan jins dan jaket menyedot perhatian ku. Bibirnya merah merona, bola matanya memakai kontak lensa berwarna biru gelap. Posturnya tinggi dan, hmm, bagian depan jaketnya di buka. Baju kaos dengan kerah rendah se dada menambah indahnya tubuh di bagian itu, dengan dada yang sangat porprosional dengan tubuhnya.
“Prakk..” tangan Listi menjitak kepala ku. “Ntar mata mu terkilir,” katanya. Siapa sih yang nelpon mu, lama kali. Aku juga gak tahu, kata Listi. Tapi, Listi menceritakan, si peneleponnya minta bertemu dengannya malam ini di hotel G.
Kau temani aku ya. Ngapain ke sana, urusan apa, selidik ku. Dia hanya ingin ketemu, aku gak tahu. Okelah, aku temanin.
Setibanya di lobi hotel G. Aku dan Listi disambut seorang perempuan. Ia memperkenalkan namanya, Anna. “Tante Anna, ini temanku, namanya Aby,” Listi menatapku. Kusambut uluran tangan Anna. “Aby,” ucapku. “Anna,” sebutnya.
Lalu Anna meminta duduk di lobi, dia beralasan ingin ngobrol pribadi dengan Listi. Kuturuti saja. Mereka bicara tak lebih dari dua menit, selanjutnya menuju kursi di tempat seorang pria berkemeja putih motif liris dengan dasar coklat muda. Badannya bongsor, postur mirip para bos di beberapa instansi pemerintah.
Mereka terlibat pembicaraan serius beberapa waktu. Itu membuatku jengkel. Ingin aku meng-sms Listi, tapi sial, pulsa lagi tidak ada.
Listi menatapku, lalu memalingkan wajahnya ke Anna. Listi dan si pria bongsor itu meninggalkan lobi, menuju lift. Sehilangnya tubuh kedua dari dalam lift, Anna menghampiri ku.
Sorry, ya dik, bikin kamu menungggu. Hanya senyum yang bisa ku lakukan membalas kalimat Anna. Temannya Listi, bukan pacarnya kan ? Senyumku kembali mengembang di wajah ku yang tak ganteng *****
Mereka ke mana, tante, balasku. Biasalah kata, Anna lalu menyalakan rokok. Ooo. Kalau begitu saya pamit dulu tante. Mulai ngantuk. Ku mau pulang apa gak nunggu temanmu, palingan mereka dua jam kok di atas.
“Sialan si Listi. Aku jadi satpamnya malam ini,” batinku.
Kita ngobrol di bar aja, yuk. Tawaran Anna sangat berat aku tolak. Bukan karena kesal sama Listi. Tapi, karena Anna terus memberikan gerak tubuh bikin aku penasaran, apa maunya.
Kutaksir, Anna umurnya masih sekitaran 41 tahun, rambutnya pendek, posturnya 153 centimeter. Kulitnya sawo matang. Dengan ciri seperti itu, dia bukanlah perempuan yang menarik.
Malam ini, tante Anna memberikan magnet yang membuat aku tak ingin meninggalkannya. Ia mengenakan blazer krim dipadu dengan blus merah jambu, bawahannya ia memakai rok selutut dengan telapak kaki dibaluk sepatu ber hak.
Entah kenapa, aku begitu tertarik dengan wanita yang rapi, apalagi yang mengenakan seragam kantoran.
Tak dinyana, Anna langsung mengapit tanganku di bawah ketiaknya. Tentu saja, kulit depan jemariku tak bisa menghindar dari tumpukan daging di dadanya. Lembut, seakan ia tak mengenakan bra.
Memasuki ruang bar juga satu ruangan dengan live music. Kami disambut dengan alunan musik romantis dari album Celine Dion.
Anna melepas tangan ku dan memberi isyarat kursi di pojok sebelah kiri pintu masuk. Dia menuju meja bartender, lalu menuju meja telah aku duduki. Anna tak langsung duduk, dia menanggalkan blazernya. Dan gerak bibirnya mengikuti sair lagu celine dion yang dilantunkan penyanyi live music di tengah ruangan *****
Huh…, suara Anna itu melesit dari bibirnya yang telah disuguhi rokok.
Seorang pramuria mendekati kami dan menyuguhkan dua gelas koktail. “Aby sudah makan. Mau pesan makanan apa,” tanya Anna. “Udah tante, masih kenyang,” jawabku.
Dengan gerakkan tangan, pramuria berkaos dengan kerah seperti dirobek, dipadu dengan rok merah sebatas paha, meninggalkan meja kami. “Jangan panggil, tante. Kesannya negatif banget. Panggil Anna aja, cukup,” mintanya.
***
Koktail di gelas kami nyaris habis. Irama musik dari mellow berganti dengan house. Anna menarik tanganku, dan mendekatkan wajahnya pada. Bibirnya menyentuh daun telinga ku. Dengan berbisik, ia minta aku menemaninya menuju panggung live. Di sana, telah ramai beberapa pasangan, bergaya triping.
Ajakan ini tentu tidak kutolak. Kurangkul pinggangnya, dan cha-cha bersama. Kurang dari lima menit, Anna meminta kembali ke kursi. Belum sempat pantatku duduk di kursi. “Aby, kita ke kamar aja, yuk. Udah ngantuk nih,” ajak Anna.
Gerakkan tubuh Anna mulai tak seimbang, ia sudah dipengaruhi alkohol. Kurangkul pinggangnya menuju lift. Di dalam lift, ia memelukku, dan mengecup leherku.
Anna sudah dalam kondisi antara sadar dan tidak. Begitu tiba di kamar, ia langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang. Bibirnya mengeracau. Aku hanya memandangi sosok perempuan di depan ku. Ingin aku menyetubuhinya. Mengisap putingnya, menjilati lehernya dan melucuti pakaiannya.
Akh, aku belum pernah melakukan itu. Bahkan dengan mantan pacarku.
Aku menuju kamar mandi, merendam diri dalam bathup. Handphoneku berdering. Aku keluar bathup dalam keadaan polos, menuju sisi tempat tidur tempat handphoneku.
Kulihat, Listi yang menelepon. “Aby kamu masih sama tante Anna, kan . Met bersenang-senang ya. Eh, ntar jam 8 kita pulang bareng lagi ya,” kata Listi tanpa menunggu ucapan ku.
Huh…sial. Kau yang enakan di sana, aku di s*****
Mata ku kembali tertuju kepada Anna. Posisinya tetap telentang. Kudekati dan kubisiki dia agar mau mandi. Anna hanya memelas, dan menarik kepalaku. Matanya terbuka, dan melihat ku bugil Anna tersenyum lalu, membenamkan kepalaku ke dadanya.
“Puaskan aku sayang…”
Rada gemetaran, tanganku melepaskan kancing yang masih mengait di blusnya. Wah, mode bra yang dikenakan Anna menambah nafsuku. Aksi memploroti kini pada roknya. Lagi, lagi undearwer yang dikenakan makin memacu birahiku.
Dengan kebaranian nafsu dan fantasi di kelapa ku. Aku mulai menjilati lutut hingga leher Anna. Ia mengelincak, gerakkan tubuhnya menandakan kenikmatan mulai meresapinya. Jilatan terus kugencarkan di dadanya, bra kubuka, putinyanya kukulum dan kugigit ujungnya.
Anna, berteriak kecil, menarik rambutku, dan terus mericau memohon disetubuh. Selagi bibirku bermain di payudaranya, berukuran 34, tangan kananku menyelip di balik undearwer bawahnya.
Memasuki areal vaginanya, jemariku menyentuh bulu-bulu, sepertinya terawat. Jari tengahku merambat masuk di bibir klistornya. Anna mengangkat pantatnya.
Lendiran dari vagina makin banyak. Dengan mengangkat kepala ku, Anna meminta vaginanya dijilati. Aku tak mempedulikannya, bibirku langsung menyerang bibirnya. Gigitan kecil kulakukan di ujung bibirnya. Jilatanku kutarik dari bibirnya, leher, kulut dada, payudaranya.
Jilatanku terhenti di pusarnya, dan merambat turun ke vaginanya. Anna menjerit kecil, jeritannya disertai muncratan lendir dari dalam. Kusadari, Anna sudah mencapai orgasme awalnya.
Kontol ku yang menegang dan andrenalin birahiku sudah memuncak. Langsung kukerahkan tenaga dengan lesatan kontol ku dalam vaginanya. Anna tersentak. Tubuhnya terangkat, ia hanya terkejut sesaat.
Tersenyum dan merangecup bibirku. Kurasakan Anna mulai menggoyang pinggulnya. “Kontolmu panjang sayang. Aku suka,” katanya. Aku terus memompa vagina Anna. Ricauannya Anna makin menjadi, ia meremas payudaranya sendiri dan menggigit bibirnya.
Pompaanku makin lama makin mengendur. Kontolku terasa berdenyut-denyut. Eranganku tertahan. Anna, dengan cepatan mendorongku, hingga kontolku terlepas.
“Tarik nafas dan tahan, Aby…tahan.” Anna merintahku. “Ayo lakukan lagi, aku gak ingin kamu orgasme dulu,” pintanya. Saran Anna ternyata benar. Denyutan di kontolku mulai berkurang, kurasakan aliran sperma kembali masuk ke dalam kantong kontolku.
Kunyalakan rokok, Anna tersenyum melihat aksiku. Kudekati dia, dan memintanya bergaya doggystyle. “Kamu tahu aja,” Anna tersenyum meraih kontolku. Dikecupnya dan dijilatnya lendiran miliknya di kepala kontolku.
Anna turun dari kasur, dan mengambil sikap diggystyle. Dengan pelan, kumendorong kontolku. Bles…kubiarkan beberapa detik hingga Anna memalingkan wajahnya ke belakang. Dia tersenyum, tangannya mencubit paha ku. “Kamu nakal, bisa aja bikin orang nikmat,” katanya.
Pompaan kontolku tidak bertahan lama, Anna terus memintaku bertahan. “Sayang, tahan. Kita sama-sama, pintanya…,akh..terus sayang..oh…hhhh.” Anna merebahkan tubuhnya, aku pun turut merebahkan tubuhku di atas tubuhnya, dengan posisi telungkup.
Kelelahan yang baru saja kami gapai, membuat kami terlupa dan tertidur.
Para pembaca, kenalan diriku. Aby. Singkat saja nama kusebut. Agar menghindari rasa marah dan benci dari mereka yang pernah bergelut dan berpeluh keringat di kos-kosanku.
Orang tua dulu, bilang, kalau mau meminta hujan carilah kodok. Aku pun bingung bilang mau meminta hujan reda, apakah harus membunuh kodok.
Nada pesan singkat membuyarkan lamunan dalam harapan kepada hujan agar reda. “Kau mau wisuda tidak. 15 menit lagi waktu tersisa untuk mata kuliah akhir.” Begitu isi pesan singkat yang kubaca dari hape merek Nokia butut milik. Si pengirim adalah, Listi. Dia temen satu kabupaten dengan ku yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta tak terkenal di Kota Medan .
“Aku terjebak hujan di kos.” Balasan sms ku tak sampai. Ternyata pulsa di handphone sudah habis. “Sial, mana duit gak ada lagi,” aku membatin.
“Persetanlah. Gak jadi wisuda gak apalah.” Aku pun merebahkan diri di kasur kusam yang sudah melar. Hujan makin deras. Halilintar memecah kota ***** Aku mengutuk hari ini, memaki dan mengumpat dengan teriakan tak mampu menandingi suara gemuruh. Aku pun lelah berteriak. Hingga terpejam dan terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur hingga suara ketukkan di kamar kos, membangunkanku. “Siapa…” teriaku dari dalam. Ku berdiri dan mencari saklar lampu kamar. Ternyata sudah malam.
“Aku, Listi,” balas si pengetuk pintu kamarku. “Bentar…,” kata ku lalu mengarah pintu. Listi, dia adalah remaja yang biasa saja. Tingginya 158 centimeter. Rambut ikal panjang sebahu, wajah oval dan memiliki tahi lalat di bibir bawahnya. Berat badannya tidak lebih dari 50 kilogram, dengan ukuran baju medium dan pinggang 28. Soal bra, setahu ukurannya 34.
Hal yang bikin aku penasaran terhadapnya. Ia mahasiswi yang tergolong tak punya masalah soal keuangan. Setahuku dari informasi teman-teman di kampus, orang tua Listi hanya pegawai negeri golongan dua. Tentu, gajinya tidak akan cukup membiaya Listi dan empat adiknya.
Gosip akan Listi menjadi buah bibir di kalangan kampus, khususnya yang seangkatan dengan kami. “Listi, ayam kampus. Dia peliaraannya pengusaha Malaysia .” Begitulah gosip akan Listi.
Keakraban ku dengan Listi terjalin saat pulang ke kampung. Kami bertemu di kereta api. Semalaman suntuk aku dan dia asik bercengkrama di restorasi. Bercerita masa kecil hingga kelak, setamat kuliah.
“Kenapa gak ke kampus. Emang udah gak mau sarjana. Mana janjimu yang akan selesai tahun *****” Listi mengomel dan mengumpat atas ketidakhadiran ku mengikuti mata ujian akhir.
Aku diam, tak menjawab. Hanya menyalakan rokok dan menguk air putih dalam botol aqua. “Nih ngoceh aja,” kata ku sembari menawarinya rokok. “Jawab dulu pertanyaanku,” katanya.
“Apa kau gak tahu tadi hujan lebat.” Listi menepis alasan itu. “Kau kan bisa pakai jas hujan ke kampus. Dasar malas mu aja yang dituruti,” umpatnya. Aku tak ingin memperpanjang perdebatan dengannya. “Sudahlah, besok aku ke kampus jumpai bu Habibi minta ujian susulan,” jawab ku dengan nada suara pasrah.
Bu Habibi, dosen bahasa Inggris yang dikenal raja tega. Jarang mahasiswa-mahasiswi mendapatkan nilai B. Paling banter memperoleh nilai C alias Cukup. Bu Habibi juga dikenal mata duitan. Bagi yang ingin ujian susulan maka tarifnya akan dinaikkan.
“Lis, kau naik apa kemari,” tanyaku. “Aku diantarin teman. Nanti aku minta dirimu mengantar aku pulang ke kos ya,” katanya. Aku tak ingin menyelidiki siapa yang mengantarnya. Amat sering kami lihat Listi dijemput dengan kendaraan roda empat, produksi Jerman dan Inggris.
Ok, asal kamu traktirin aku makan. “Emang gak punya uang,” balasnya. “Iya, aku lagi bokek nih. Cuma ada 15 ribu di dompet,” jawabku. “Duh…, kasian deh,” ledek Listi. “Ntar aku cuci muka dulu,” jawabku.
Sepeda motor empat tak yang terparkir sejak siang tadi kustater. Yuk berangkat, ajak pada Listi. “Kita makan di KFC, ya. Singgah dulu di ATM, aku mau ambil duit,” katanya.
*** Udara kota ini begitu sejuk. Dingin. Bulan yang mengantung di langit kelam, menjadi pusat indah malam *****
Usai melakukan transaksi di mesin ATM, Listi kembali naik ke boncenganku. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju restoran siap saji, milik warga abang sam itu.
Aku sengaja mengambil kursi paling pojok. Itu adalah kegemaranku. Dari sini aku bisa memperhatikan siapa saja. Dan melirik wanita yang manis, ayu dan cakep.
Biasanya, etnis cina paling banyak. Wanitanya dengan pakaian minim menjadi santapan mataku. Paha mereka yang mulus, dada yang menyembul dari baju kaos super ketat. Membuat mataku manja dan hayalan untuk melucuti dan bercinta dengan mereka.
Meski terobsesi dengan wanita cina, aku belum begitu berhasrat untuk bercinta dengan mereka. Ya, tentunya dengan wanita etnis cina yang berprofesi sebagai pelacur. Banyak teman yang bilang mereka sangat berkicau saat melakukan making love. Merintih gak karuan.
Dibanding mereka, aku lebih tertarik dengan etnis manggali atau India . Bukan rahasia lagi, di Indonesia semua PSK dari beragam etnis dan ras ada.
“Kenapa, montok payudara cewek itu.” Suara Listi menyudahi tatapan mataku ke arah gadis, kutaksir masih berumur 14 tahun, duduk bersama dua temannya di sisi kanan meja kami. “Ha…ha. Masih tetap montokan payudaramu, Lis,” bisikku padanya. Listi hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya ke arah dadanya. “Makasi, pujianmu.”
“Eh, Lis boleh tanya yang pribadi. Tapi kamu jangan marah ya. Karena aku ingin tahu soal,” tak kulanjutkan. Listi melepas sedotan minum dari bibirnya. Matanya melirik tajam ke arahku. Dan mendekatkan wajahnya. “Soal apa. Soal aku yang disebut ayam kampus.”
“Ehem,” suara itu saja keluar dari bibir ku. “Iya, By. Aku ayam kampus. Sama mu aku akan terus terang. Ini kulakukan, ya memang didasari ekonomi. Kau tahu kan, ayahku hanya seorang pegawai rendahan. Jadi, dengan apa yang kulakukan sejak empat tahun ini, demi obsesiku, demi cita-citaku dan untuk meringankan beban orang tuaku. Kalau tidak begini, tentu aku tak bisa menafkahi dan membiaya dua adikku yang kuliah di s*****
Tapi, aku tidak sembarangan, By. Aku hanya menjalin hubungan dan mau diboking oleh mereka yang sudah menikah dan memang hanya menginginkan seks. Tidak lebih. Ya, tak sedikit dari mereka yang mau menjadikan aku simpanan. Tapi kutolak. Itu kulakukan karena aku tidak bodoh. Aku tahu mereka mau jadikan aku simpanan, agar bisa mengikatku, tapi aku tak ingin terikat. Walau imbalan yang mereka tawarankan cukup menggiurkan. Mulai dari rumah, mobil, pekerjaan. Itu kutolak. Aku hanya menyerahkan tubuhku, tidak hatiku.
Kepulan asap rokok dari bibirku, bersamaan dengan kalimat tanya yang kulontarkan pada Listi dengan mimik melucu. “Hatimu buat siapa.” Listi mengerutkan keningnya. Entahlah, By, aku tak punya rasa cinta belum. Yang ada masih uang, uang dan uang. “Pinjamin aku dong,” sambil menelentangkan telapak tanganku ke arahnya.
Listi hanya tersenyum. “Kerja dong,” katanya. Mau kerja apa, Lis. Hari gini ngandalin ijazah SMA. Ya gak laku. Palingan diterima jadi satpam, cleaning service dan sopir.
***
Obrolan kami terhenti. Dari dalam tas tangan milik Listi, dering telepon menghentikan pembicaraan kami. Aku tak tahu siapa yang menelepon Listi. Pastinya bukan dari seorang pria. Ia menyapa si penelepon dengan kata, siapa *****
Aku pun tak memperhatikan Listi. Mata ku mengarah kepada satu keluarga yang baru masuk. Pasangan suami istri dengan seorang putranya, kuterka masih balita. Si istri dengan jins dan jaket menyedot perhatian ku. Bibirnya merah merona, bola matanya memakai kontak lensa berwarna biru gelap. Posturnya tinggi dan, hmm, bagian depan jaketnya di buka. Baju kaos dengan kerah rendah se dada menambah indahnya tubuh di bagian itu, dengan dada yang sangat porprosional dengan tubuhnya.
“Prakk..” tangan Listi menjitak kepala ku. “Ntar mata mu terkilir,” katanya. Siapa sih yang nelpon mu, lama kali. Aku juga gak tahu, kata Listi. Tapi, Listi menceritakan, si peneleponnya minta bertemu dengannya malam ini di hotel G.
Kau temani aku ya. Ngapain ke sana, urusan apa, selidik ku. Dia hanya ingin ketemu, aku gak tahu. Okelah, aku temanin.
Setibanya di lobi hotel G. Aku dan Listi disambut seorang perempuan. Ia memperkenalkan namanya, Anna. “Tante Anna, ini temanku, namanya Aby,” Listi menatapku. Kusambut uluran tangan Anna. “Aby,” ucapku. “Anna,” sebutnya.
Lalu Anna meminta duduk di lobi, dia beralasan ingin ngobrol pribadi dengan Listi. Kuturuti saja. Mereka bicara tak lebih dari dua menit, selanjutnya menuju kursi di tempat seorang pria berkemeja putih motif liris dengan dasar coklat muda. Badannya bongsor, postur mirip para bos di beberapa instansi pemerintah.
Mereka terlibat pembicaraan serius beberapa waktu. Itu membuatku jengkel. Ingin aku meng-sms Listi, tapi sial, pulsa lagi tidak ada.
Listi menatapku, lalu memalingkan wajahnya ke Anna. Listi dan si pria bongsor itu meninggalkan lobi, menuju lift. Sehilangnya tubuh kedua dari dalam lift, Anna menghampiri ku.
Sorry, ya dik, bikin kamu menungggu. Hanya senyum yang bisa ku lakukan membalas kalimat Anna. Temannya Listi, bukan pacarnya kan ? Senyumku kembali mengembang di wajah ku yang tak ganteng *****
Mereka ke mana, tante, balasku. Biasalah kata, Anna lalu menyalakan rokok. Ooo. Kalau begitu saya pamit dulu tante. Mulai ngantuk. Ku mau pulang apa gak nunggu temanmu, palingan mereka dua jam kok di atas.
“Sialan si Listi. Aku jadi satpamnya malam ini,” batinku.
Kita ngobrol di bar aja, yuk. Tawaran Anna sangat berat aku tolak. Bukan karena kesal sama Listi. Tapi, karena Anna terus memberikan gerak tubuh bikin aku penasaran, apa maunya.
Kutaksir, Anna umurnya masih sekitaran 41 tahun, rambutnya pendek, posturnya 153 centimeter. Kulitnya sawo matang. Dengan ciri seperti itu, dia bukanlah perempuan yang menarik.
Malam ini, tante Anna memberikan magnet yang membuat aku tak ingin meninggalkannya. Ia mengenakan blazer krim dipadu dengan blus merah jambu, bawahannya ia memakai rok selutut dengan telapak kaki dibaluk sepatu ber hak.
Entah kenapa, aku begitu tertarik dengan wanita yang rapi, apalagi yang mengenakan seragam kantoran.
Tak dinyana, Anna langsung mengapit tanganku di bawah ketiaknya. Tentu saja, kulit depan jemariku tak bisa menghindar dari tumpukan daging di dadanya. Lembut, seakan ia tak mengenakan bra.
Memasuki ruang bar juga satu ruangan dengan live music. Kami disambut dengan alunan musik romantis dari album Celine Dion.
Anna melepas tangan ku dan memberi isyarat kursi di pojok sebelah kiri pintu masuk. Dia menuju meja bartender, lalu menuju meja telah aku duduki. Anna tak langsung duduk, dia menanggalkan blazernya. Dan gerak bibirnya mengikuti sair lagu celine dion yang dilantunkan penyanyi live music di tengah ruangan *****
Huh…, suara Anna itu melesit dari bibirnya yang telah disuguhi rokok.
Seorang pramuria mendekati kami dan menyuguhkan dua gelas koktail. “Aby sudah makan. Mau pesan makanan apa,” tanya Anna. “Udah tante, masih kenyang,” jawabku.
Dengan gerakkan tangan, pramuria berkaos dengan kerah seperti dirobek, dipadu dengan rok merah sebatas paha, meninggalkan meja kami. “Jangan panggil, tante. Kesannya negatif banget. Panggil Anna aja, cukup,” mintanya.
***
Koktail di gelas kami nyaris habis. Irama musik dari mellow berganti dengan house. Anna menarik tanganku, dan mendekatkan wajahnya pada. Bibirnya menyentuh daun telinga ku. Dengan berbisik, ia minta aku menemaninya menuju panggung live. Di sana, telah ramai beberapa pasangan, bergaya triping.
Ajakan ini tentu tidak kutolak. Kurangkul pinggangnya, dan cha-cha bersama. Kurang dari lima menit, Anna meminta kembali ke kursi. Belum sempat pantatku duduk di kursi. “Aby, kita ke kamar aja, yuk. Udah ngantuk nih,” ajak Anna.
Gerakkan tubuh Anna mulai tak seimbang, ia sudah dipengaruhi alkohol. Kurangkul pinggangnya menuju lift. Di dalam lift, ia memelukku, dan mengecup leherku.
Anna sudah dalam kondisi antara sadar dan tidak. Begitu tiba di kamar, ia langsung membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang. Bibirnya mengeracau. Aku hanya memandangi sosok perempuan di depan ku. Ingin aku menyetubuhinya. Mengisap putingnya, menjilati lehernya dan melucuti pakaiannya.
Akh, aku belum pernah melakukan itu. Bahkan dengan mantan pacarku.
Aku menuju kamar mandi, merendam diri dalam bathup. Handphoneku berdering. Aku keluar bathup dalam keadaan polos, menuju sisi tempat tidur tempat handphoneku.
Kulihat, Listi yang menelepon. “Aby kamu masih sama tante Anna, kan . Met bersenang-senang ya. Eh, ntar jam 8 kita pulang bareng lagi ya,” kata Listi tanpa menunggu ucapan ku.
Huh…sial. Kau yang enakan di sana, aku di s*****
Mata ku kembali tertuju kepada Anna. Posisinya tetap telentang. Kudekati dan kubisiki dia agar mau mandi. Anna hanya memelas, dan menarik kepalaku. Matanya terbuka, dan melihat ku bugil Anna tersenyum lalu, membenamkan kepalaku ke dadanya.
“Puaskan aku sayang…”
Rada gemetaran, tanganku melepaskan kancing yang masih mengait di blusnya. Wah, mode bra yang dikenakan Anna menambah nafsuku. Aksi memploroti kini pada roknya. Lagi, lagi undearwer yang dikenakan makin memacu birahiku.
Dengan kebaranian nafsu dan fantasi di kelapa ku. Aku mulai menjilati lutut hingga leher Anna. Ia mengelincak, gerakkan tubuhnya menandakan kenikmatan mulai meresapinya. Jilatan terus kugencarkan di dadanya, bra kubuka, putinyanya kukulum dan kugigit ujungnya.
Anna, berteriak kecil, menarik rambutku, dan terus mericau memohon disetubuh. Selagi bibirku bermain di payudaranya, berukuran 34, tangan kananku menyelip di balik undearwer bawahnya.
Memasuki areal vaginanya, jemariku menyentuh bulu-bulu, sepertinya terawat. Jari tengahku merambat masuk di bibir klistornya. Anna mengangkat pantatnya.
Lendiran dari vagina makin banyak. Dengan mengangkat kepala ku, Anna meminta vaginanya dijilati. Aku tak mempedulikannya, bibirku langsung menyerang bibirnya. Gigitan kecil kulakukan di ujung bibirnya. Jilatanku kutarik dari bibirnya, leher, kulut dada, payudaranya.
Jilatanku terhenti di pusarnya, dan merambat turun ke vaginanya. Anna menjerit kecil, jeritannya disertai muncratan lendir dari dalam. Kusadari, Anna sudah mencapai orgasme awalnya.
Kontol ku yang menegang dan andrenalin birahiku sudah memuncak. Langsung kukerahkan tenaga dengan lesatan kontol ku dalam vaginanya. Anna tersentak. Tubuhnya terangkat, ia hanya terkejut sesaat.
Tersenyum dan merangecup bibirku. Kurasakan Anna mulai menggoyang pinggulnya. “Kontolmu panjang sayang. Aku suka,” katanya. Aku terus memompa vagina Anna. Ricauannya Anna makin menjadi, ia meremas payudaranya sendiri dan menggigit bibirnya.
Pompaanku makin lama makin mengendur. Kontolku terasa berdenyut-denyut. Eranganku tertahan. Anna, dengan cepatan mendorongku, hingga kontolku terlepas.
“Tarik nafas dan tahan, Aby…tahan.” Anna merintahku. “Ayo lakukan lagi, aku gak ingin kamu orgasme dulu,” pintanya. Saran Anna ternyata benar. Denyutan di kontolku mulai berkurang, kurasakan aliran sperma kembali masuk ke dalam kantong kontolku.
Kunyalakan rokok, Anna tersenyum melihat aksiku. Kudekati dia, dan memintanya bergaya doggystyle. “Kamu tahu aja,” Anna tersenyum meraih kontolku. Dikecupnya dan dijilatnya lendiran miliknya di kepala kontolku.
Anna turun dari kasur, dan mengambil sikap diggystyle. Dengan pelan, kumendorong kontolku. Bles…kubiarkan beberapa detik hingga Anna memalingkan wajahnya ke belakang. Dia tersenyum, tangannya mencubit paha ku. “Kamu nakal, bisa aja bikin orang nikmat,” katanya.
Pompaan kontolku tidak bertahan lama, Anna terus memintaku bertahan. “Sayang, tahan. Kita sama-sama, pintanya…,akh..terus sayang..oh…hhhh.” Anna merebahkan tubuhnya, aku pun turut merebahkan tubuhku di atas tubuhnya, dengan posisi telungkup.
Kelelahan yang baru saja kami gapai, membuat kami terlupa dan tertidur.
Cerita Seks Terpopuler - Kenangan Ngentot Masa Kuliahku
4/
5
Oleh
sonto loyo
